Ini Penting, Ada 6 Alasan Utama Mengapa Masyarakat 7 Suku di Bintuni Harus Pilih Pit-Matret

BINTUNI – Kontestasi pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Teluk Bintuni pada 9 Desember 2020 mendatang, bukan sekedar euphoria pesta politik tanpa makna.

Tokoh pemuda Kabupaten Teluk Bintuni, Yohanes Akwan menegaskan, pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Teluk Bintuni yang saat ini sedang masuk tahap kampanye, adalah momentum untuk menentukan nasib negeri Sisar Matiti dalam lima tahun ke depan.

“Untuk itu saya ingatkan kepada seluruh masyarakat di Kabupaten Teluk Bintuni, khususnya warga 7 suku yang menjadi warga asli di Teluk Bintuni, jangan sampai tersesat dalam memilih pemimpin. Harus dicermati betul, mana calon pemimpin yang memiliki visi misi untuk kemajuan pembangunan di Teluk Bintuni,” kata Anes, sapaan Yohanes Akwan.

Dalam Pilkada Teluk Bintuni, terdapat dua pasangan calon Bupati-Wakil Bupati yang akan naik panggung. Salah satunya adalah pasangan Ir.Petrus Kasihiw MT dan Matret Kokop SH, yang mendapat nomor urut 02.

Dari dua pasangan kandidat itu, Anes melihat ada tujuh alasan yang sangat mendasar pada sosok Pit-Matret, untuk menjadi pertimbangan masyarakat Teluk Bintuni. Berikut tujuh alasan utama yang dibeber Anes.

Putera Asli Daerah Teluk Bintuni

Kandidat Pit-Matret adalah sosok putra daerah asli. Ir. Petrus Kasihiw MT putra daerah yang lahir di Bintuni, 8 November 1964 silam. Sebelum terjun ke politik dan menjadi Bupati Bintuni, ayah dari 4 putra ini adalah seorang birokrat dengan jabatan terakhir sebagai Kepala Bappeda Kabupaten Tambrauw.

Sedangkan Matret Kokop MT, adalah putra Suku Sebyar yang lahir di Aranday, 29 September 1961. Mantan Kepala Distrik Aranday ini juga sosok yang berpengalaman di bidang birokrasi, dengan jabatan yang terakhir yang diemban Sekretaris Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi Kabupaten Teluk Bintuni.

Memimpin dengan semangat yang berlandaskan adat dan agama

Pasangan Pit-Matret memiliki semangat yang gigih dalam membangun Teluk Bintuni untuk kesejahteraan masyarakat. Di periode pertama kepemimpinannya, duet pemimpin ini telah mengentaskan Teluk Bintuni dari peringkat pertama indeks daerah dengan angka kemiskinan tertinggi.

“Padahal itu baru berjalan 3,5 tahun memimpin, belum sampai genap 5 tahun,” kata Anes.

Pasangan Pit-Matret adalah sosok yang kompak dalam memimpin Teluk Bintuni. Keduanya saling megisi sesuai tupoksi masing-masing. (Foto:Tantowi/TN)

Melindungi seluruh masyarakat Teluk Bintuni, tanpa membeda-bedakan

Dalam kontestasi pilkada 2015, terdapat tiga pasangan kandidat yang naik panggung. Faktanya suara yang diperoleh Pit-Matret masih unggul dari yang lain. Kendati demikian, dalam perjalanan pemerintahannya, Pit-Matret tidak membedakan mana kawan dan mana lawan politik. Bahkan, dalam kontestasi yang sekarang, kelompok-kelompok yang dulu berseberangan, sekarang bersatu di barisan PMK2.

“Tahun 2015, saya menjadi lawan politik Pit-Matret. Tapi saat ini saya mengajak seluruh simpatisan saya, untuk memilih beliau berdua saat 9 Desember 2020 nanti,” kata ustadz Abdul Rahman Urbun, mantan calon wakil bupati dalam Pilkada Bintuni tahun 2015.

Mempersiapkan anak-anak Bintuni sebagai generasi penerus untuk memimpin daerah

Dalam menjalankan roda pemerintahan, Pit-Matret berpikir kepentingan jangka panjang. Keduanya menyiapkan SDM, dengan memberikan beasiswa kepada anak-anak 7 suku di Teluk Bintuni, untuk menempuh studi di sejumlah kota besar dan maju.

Tidak punya kepentingan pribadi. Keluarga tidak punya kepentingan bisnis di Teluk Bintuni

Alasan ini yang juga patut dihargai dari sosok kandidat Pit-Matret. Sebagai Bupati Teluk Bintuni, Petrus Kasihiw melarang keras anak-anaknya ikut campur pekerjaannya, atau membagikan proyek kepada keluarganya.

“Saya suruh anak saya untuk buka toko saja, jualan semen atau bahan bangunan. Saya tidak pernah mengijinkan anak-anak saya bermain proyek, dan saya tidak akan pernah memberikan proyek kepada keluarga saya,” kata Petrus Kasihiw.

Komitmen itu juga disampaikan Matret Kokop, yang tidak akan memberikan privilege kepada anak-anaknya untuk jadi PNS di Bintuni. “Kalau ada anak saya yang jadi PNS, itu karena memang sudah masuk sejak saya belum jadi wakil bupati ,” kata Matret Kokop.

Keluarga yang harmonis dari Ir. Petrus Kasihiw MT.

Keluarga yang harmonis, tidak bermasalah dengan syahwat.

Duet kandidat ini juga layak menjadi tauladan sebagai sosok pemimpin keluarga yang harmonis. Petrus Kasihiw sangat bahagia dengan 1 istri dan 4 orang anaknya. Begitu juga Matret Kokop, yang menjadi imam dalam keluarga. Kedua kandidat ini juga tidak pernah bermasalah dalam urusan syahwat laki-laki, sehingga harus mencari wanita lain untuk melampiaskannya.

“Keluarga itu amanah yang harus dijaga. Tidak boleh kita menelantarkannya,” kata Matret Kokop.

7. Merangkul seluruh masyarakat Teluk Bintuni, baik kawan maupun lawan, karena bagi Piet – Matret, seluruh warga masyarakat adalah tanggung jawab sebagai pemimpin.

 

Sumber : teropongnews.com

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *