Upaya Bupati Petrus Kasihiw Kembalikan Status Zona Hijau Kabupaten Teluk Bintuni

TELUK BINTUNI – Kabupaten Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat, kembali memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Melalui surat edaran, Bupati Teluk Bintuni, Petrus Kasihiw, memberikan delapan poin imbauan untuk dijalankan masyarakat selama sebulan ke depan.

Salah satunya mengenai penghentian sementara kegiatan belajar mengajar di sekolah dan kegiatan keagamaan di rumah ibadah.

Selain itu, pihaknya meminta sejumlah perusahaan untuk mendorong karyawannya bekerja dari rumah.

Keputusan penerapan PSBB diambil Bupati Petrus pada Selasa (15/9/2020) lalu.

Penerapan PSBB dilakukan setelah ditemukan kembali pasien terkonfirmasi positif Covid-19 di Teluk Bintuni.

Kata Petrus, hingga Sabtu (19/9/2020) ada 99 pasien yang sementara melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Isolasi mandiri dilakukan pasien tersebut lantaran Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Teluk Bintuni tak mampu lagi menampung.

Fenomena tersebut mendorong Petrus ambil tindakan cepat dengan menunjuk Kampung Masina, Distrik Bintuni, sebagai tempat isolasi dan karantina mandiri untuk pasien yang tidak perlu perawatan ekstra.

Fasilitas karantina yang disiapkan di Kampung Masina berjumlah sembilan rumah.

Tujuh rumah digunakan untuk maksimum menampung 14 pasien. Sedangkan dua rumah lainnya untuk tenaga medis dan keamanan.

Salah satu penduduk Kampung Masina, Wajali Fimbay, mengaku tidak keberatan karena hal tersebut untuk kepentingan masyarakat luas.

Wajali dan seluruh warga Kampung Masina pun telah mengosongkan lokasi dan bermukim sementara di kediaman sanak saudara mereka.

Selain Kampung Masina, Pemkab Bintuni pimpinan Petrus menambah dua lokasi lain untuk isolasi atau karantina mandiri.

Dua lokasi lain itu adalah Asrama Pusat Pelatihan Teknik Industri dan Migas (P2TIM) Teluk Bintuni dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat. Serta Kampung (DPMK) yang terletak di Jalur 9 Kampung Banjar Ausoi SP 4.

“Saat ini kapasitas rumah sakit sudah tidak mampu lagi menampung 99 pasien yang positif Covid-19. Besok akan dipindahkan ke dua tempat ini,” kata Petrus.

“Harapannya tempat isolasi tersebut dapat mencegah penyebaran virus kepada anggota keluarga,” jelasnya.

Alumnus Magister Perencanaan Kota dan Daerah UGM angkatan 1998 ini menyatakan, pihaknya berkomitmen melakukan berbagai upaya demi memerangi Covid-19.

Termasuk menjamin seluruh biaya rapid test dan swab test. Kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri menjadi kunci dalam memutus penyebaran virus corona.

“Saya imbau kepada masyarakat, mari manfaatkan. Sayangi diri kita sendiri. Datang dan rapid test di rumah sakit atau puskesmas,” ucap Petrus.

“Gratis, tidak bayar. Bahkan swab pun gratis untuk masyarakat tidak mampu. Hal ini sudah saya katakan kepada direktur rumah sakit dan Satgas Covid-19,” bebernya.

Hal ini agar Teluk Bintuni siap menghadapi dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat Covid-19.

Petrus yakin, masyarakat Teluk Bintuni adalah masyarakat yang partisipatif dalam memerangi pandemi.

Oleh sebab itu, dia berharap Teluk Bintuni kembali berstatus daerah zona hijau, seperti yang diraih pada Juli lalu.

“Pemerintah telah sigap dan antisipatif. Segenap jajaran serta Satgas Covid-19 akan terus bekerja keras,” kata Petrus.

“Saatnya kita tunjukkan agar zona hijau kembali mewarnai Negeri Sisar Matiti,” pungkasnya.

 

sumber : kagama.co

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *